Jumat, 05 Maret 2010

ASAS KEBANGKITAN DUNIA ISLAM

oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani


KATA PENGANTAR
Tulisan dibawah ini merupakan jawaban dari pertanyaan yang pernah dilontarkan kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah di majalah Al-Ashalah, edisi 11, tgl. 15 Dzulhijjah 1414H, dan pernah dimuat di majalah As-Sunnah edisi 13/II/1416 H, kami mengangkatnya kembali di Milist assunnah karena berhubungan dengan ilmu, tentunya dengan ijin dari penerjemah


ASAS KEBANGKITAN DUNIA ISLAM
Pertanyaan...
”Asas-asas apakah yang dapat menyebabkan Dunia Islam bangkit kembali?”

Jawab...
Yang saya yakini ialah apa yang terdapat dalam hadits shahih
Ia merupakan jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam itu, yang mungkin dilontarkan dimasa sekarang
Hadits itu adalah sabda Rasulullah, artinya...
"Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem 'iinah (seseorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga murah -red), menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu" (Hadist Shahih riwayat Abu Dawud)
Jadi Asasnya Adalah RUJUK (Kembali) Kepada ISLAM

Persoalan ini, telah diisyaratkan oleh Imam Malik rahimahullah dalam sebuah kalimat ma'tsur yang ditulis dengan tinta emas...
"Barangsiapa mengada-adakan bid'ah di dalam Islam kemudian menganggap bid'ah itu baik, berarti ia telah menganggap Muhammad menghianati risalah"
Mari kita baca firman Allah Tabaraka wa Ta'ala...

"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan buatmu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu" (Al-Maaidah: 3)
Oleh karenanya...
"Apa yang pada hari itu bukan agama, maka hari ini-pun bukan agama...
Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini"
Kalimat terakhir (Imam Malik) di atas itulah yang berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini, yaitu pernyataan beliau...
"Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini".
Oleh sebab itu...
Sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyah dahulu yang tidak menjadi baik keadaannya kecuali setelah datangnya Nabi mereka (Muhammad) dengan membawa wahyu dari langit, yang telah menyebabkan kehidupan mereka di dunia berbahagia dan selamat dalam kehidupan akhirat
Demikian pula seyogyanya asas yang mesti dijadikan pijakan bagi kehidupan Islami nan membahagiakan dimasa kini,
Yakni tiada lain hanyalah RUJUK (kembali) kepada Al-Kitab was Sunnah
Hanya saja, masalahnya memerlukan sedikit penjelasan...
'Sebab betapa banyak jama'ah serta golongan-golongan di "lapangan" Yang mengaku bahwa mereka telah meletakkan sebuah manhaj yang memungkinkan terwujudnya masyarakat Islam dan terwujudnya pelaksanaan hukum berdasar Islam'
Sementara itu kita mengetahui dari Al-Kitab dan Sunnah Rasulullah, bahwa jalan bagi terwujudnya itu semua hanya ada satu jalan
Sebagaimana yang disebutkan Allah Ta'ala dalam firman-Nya...

"Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya" (Al-An'am : 153).
Dan sungguh Rasulullah telah menjelaskan makna ayat ini kepada para shahabat beliau...
Beliau pada suatu hari menggambarkan kepada para shahabat sebuah garis lurus diatas tanah, disusul dengan menggambar garis-garis pendek yang banyak disisi-sisi garis lurus tadi
Kemudian beliau membacakan ayat diatas ketika menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus dan kemudian menunjuk garis-garis yang terdapat pada sisi-sisinya, beliau bersabda...
"Ini adalah jalan Allah, sedangkan jalan-jalan ini, pada setiap muara jalan-jalan tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya"
(Shahih sebagaimana terdapat dalam "Zhilalul Jannah fi takhrij As-Sunnah: 16-17)
Allah 'Azza wa Jalla-pun menguatkan ayat beserta penjelasannya dari Rasulullah dalam hadits diatas, dengan ayat lain, yaitu firman-Nya...

"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk (kebenaran) baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali" (An-Nisaa: 115)
Dalam ayat ini terdapat sebuah hikmah yang tegas, yakni...
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengikatkan "jalannya orang-orang mukmin" kepada apa yang telah dibawa Rasulullah.
Hal inilah yang telah diisyaratkan Rasullah dalam hadits iftiraq (perpecahan) ketika beliau ditanya tentang Al-Firqah An Najiyah (golongan yang selamat), saat itu beliau menjawab...
"(Yaitu) apa yang aku dan shahabatku hari ini ada di atasnya" (lihat As-Silsilah Ash-Shahihah : 203)
Apakah gerangan hikmah yang dimaksud ketika Allah menyebutkan "Jalannya orang-orang mukmin (Sabiilul mukminim)" dalam ayat tersebut?
Dan apakah kiranya hal yang dimaksud ketika Rasulullah mengikatkan para shahabatnya kepada diri beliau sendiri dalam hadits dimuka?
Jawabannya...
'Bahwa para shahabat radliyallahu anhum itu adalah orang-orang yang telah menerima pelajaran 2 wahyu (Al-Qur'an dan As-Sunnah) langsung dari Rasulullah, beliau telah menjelaskannya langsung kepada mereka tanpa perantara, tidak sebagaimana keadaan orang-orang sesudahnya'
Dan hasilnya adalah seperti yang pernah Rasulullah katakan dalam sabdanya..
"Sesungguhnya orang yang hadir akan dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak hadir" (Lihat Shahih Al-Jami : 1641)
Oleh sebab itu, iman para shahabat terdahulu lebih kuat daripada orang-orang yang datang sesudahnya
Ini juga telah diisyaratkan Rasulullah dalam hadits mutawatir...
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, kemudian orang-orang yang sesudahnya lagi" (Muttafaq 'alaihi)
Berdasarkan hal ini maka...
Seorang muslim tidak bisa berdiri sendiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah,
Ia harus meminta bantuan dalam memahami keduanya dengan kembali kepada para shahabat Nabi yang Mulia,
'Orang-orang yang telah menerima pelajaran tentang keduanya langsung dari Rasulullah yang terkadang menjelaskannya dengan perkataan, terkadang dengan perbuatan dan terkadang dengan taqrir (persetujuan) beliau'
Maka mendesak sekali "mengajak orang kembali pada Al-qur'an dan As-Sunnah" untuk menambahkan prinsip "berjalan diatas apa yang ditempuh oleh AS-SALAFU AS-SHALIH"
Dalam rangka mengamalkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang telah disebut didepan,
Manakala Allah menyebutkan "Jalannya orang-orang mukmin (sabilul mu'minin)", dan menyebutkan Nabi-Nya yang mulia serta para shahabatnya
Dengan maksud supaya memahami Al-Kitab was Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami oleh KAUM SALAF generasi pertama dari kalangan shahabat radliyallahu anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan
Kemudian, dalam hal ini ada satu persoalan yang teramat penting namun dilupakan banyak kalangan jama'ah serta hizb-hizb Islam
Persoalan itu ialah...
"Jalan manakah gerangan yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang ditempuh oleh para shahabat dalam memahami dan melaksanakan sunnah ini?..."
Jawabannya adalah...
"Tiada jalan lain untuk menuju pemahaman itu kecuali harus RUJUK (kembali) kepada Ilmu Hadits, Ilmu Mushtalah Hadits, Ilmu Al-jarh wa At-Ta'dil dan mengamalkan kaidah-kaidah serta musthalah-musthalah-nya tersebut,
Sehingga para ulama dapat dengan mantap mengetahui mana yang shahih dari Nabi dan mana yang tidak shahih"

Sebagai Penutup Jawaban
Kami bisa mengatakan dengan bahasa yang lebih jelas kepada kaum muslimin yang betul-betul ingin kembali mendapatkan 'IZZAH (kehormatan), kejayaan dan hukum bagi Islam,
Yaitu kita harus bisa merealisasikan 2 hal...
Pertama:
Mengembalikan syari'at Islam kedalam benak-benak kaum muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang menyusup ke dalammnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya, ketika Allah Tabaraka wa Ta'ala menurunkan firmanya...

"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu" (Al-Maaidah : 3).
Mengembalikan persoalan ini pada hari ini menjadi seperti persoalan zaman pertama dulu...
Membutuhkan perjuangan ekstra keras dari para ulama kaum muslimin di pelbagai penjuru dunia

Kedua:
Kerja keras terus-menerus tanpa henti ini harus dibarengi dengan ilmu yang telah terbersihkan itu

Pada hari kaum muslimin telah kembali memahami dien mereka sebagaimana yang dipahami para shahabat Rasulullah, kemudian melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan ini secara benar dalam semua segi kehidupan,
Maka pada hari itulah kaum mu'minin dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari Allah

Inilah yang bisa saya katakan dalam ketergesa-gesaan ini,
Dengan memohon kepada Allah agar Dia memberikan pemahaman Islam secara benar kepada kita dan seluruh kaum muslimin, sesuai dengan tuntunan kitab-Nya dan Sunnah Rasulullah yang shahih sebagaimana yang telah ditempuh oleh SALAFUNA ASH-SHALIH
Kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufiq kepada kita supaya dapat mengamalkan yang demikian itu,
Sesungguhnya Dia SAMI' (Maha Mendengar) lagi MUJIB (Maha Mengabulkan Do'a)
Wallahu 'alam.

Sumber Asli...
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/74

Tidak ada komentar:

Posting Komentar